Prolog
Pada awalnya aku kurang tertarik membaca buku yang berjudul "How to Win Friend & Influence People" meskipun sering muncul di timeline akun instagram tentang buku yang berwarna putih dan silver ini, karena yang ada dibenak ku "Keknya itu buku khusus influencer, kan aku bukan influencer" hahaha😂. Sampai pada akhirnya ketemu video tiktok dari @assyifazds hingga aku menyimpulkan buku tersebut layak dipertimbangkan untuk di beli. Meskipun sebelumnya aku juga belum pernah baca buku versi yang berwarna biru (versi sebelumnya) tapi karena sifat kepo yang tak terbendung akhirnya aku coba checkout di tokopedia (bukan endorse ya, tapi kalau tokped mau endorse bisa kita bicarakan 😂). Setelah 3 hari paket buku yang aku tunggu itu pun sampai. Bagaimana dengan isi buku terdiri dari 4 bagian tersebut? kuyy kita bahas
__
Pada era digital yang membuat kita sering menghabiskan waktu di social media (red: dunia maya) membuat gaya komunikasi kita pun berubah yang sebelumnya kita menyampaikan pesan secara langsung kini menyampaikan pesan melalui aplikasi chat. Bahkan beberapa bulan yang lalu saya melihat undangan pernikahan pun sekarang melalui story Whatsapp 😂
Oke lanjut, dalam berkomunikasi baik itu di dunia maya maupun dunia nyata kita selalu berada di dua pilihan yaitu di antara menguatkan orang tersebut atau justru melemahkan orang tersebut. Setelah aku baca buku ini aku jadi paham ternyata bahwa kalau kita bilang "kamu itu salah" atau "harusnya kamu gak gitu" justru membuat lawan bicara kita merasa dicela meskipun sebenarnya apa yang disampaikan oleh orang tersebut memang salah atau kita gak setuju.
Bagaimana sebaiknya kita lakukan? menurut buku yang termasuk Best Seller ini, sebaiknya sebelum kita mengatakan ketidaksetujuan, kita perlu mengawali dengan apresiasi sebagai bentuk kita menghargai apa yang orang tersebut sampaikan. Kalau contoh dari aku "Bagus apa yang kamu lakukan, tapi menurut aku mungkin juga bagus begini....". Pada halaman 9 di buku ini kamu bakal nemuin kalimat :
Anda dan saya sama-sama tidak suka menjadi subjek yang dicela, entah kita berhak mendapatkannya atau tidak
Selain itu, terkadang kita justru sering berbicara dengan orang tentang hal apa yang kita sukai bukan tentang apa yang lawan bicara kita sukai. Sudah menjadi sifat alami manusia atas keegoannya. Tapi agar mendapatkan perasaan dihargai atau empati kita perlu menunjukkan ketertarikan terhadap lawan bicara kita. Ibaratkan memancing ikan, dan makanan favorit kita misalnya martabak. Apa kita memberikan umpan dengan makanan favorit kita? tentu aja enggak kan... Begitupun dalam bersosialisasi.
Bahkan senyum saat berbicara maupun saat mendengarkan lawan kita bicara pun ternyata memberikan efek positif bahwa kita tertarik dengan topik yang sedang dibahas. Setelah aku baca lebih lanjut, aku sadar ternyata memanggil orang dengan nama panggilan itu justru memberikan efek yang sangat luar biasa. Mungkin kamu juga sering manggil teman misalnya, dengan sebutan entah itu "bro", atau "beb", "bestie" hahaha kalau kamu cewek memanggil sesama teman cewek. gak salah emang. tapi menurut buku ini akan lebih powerfull kalau kamu memanggil dengan nama orang tersebut.
Dalam buku karya Dale Carnegia & Associates, Inc ini banyak menceritakan hal-hal yang menarik, salah satu nya yang paling aku ingat adalah cerita tentang seorang karyawan yang menjual minuman lalu menyapa dengan menyebut nama pelanggan yang padahal pelanggan tersebut sudah lama gak ke toko tersebut hingga membuat pelanggan tersebut terkejut bahwa karyawan tersebut ternyata masih ingat dengan nama nya.
Hal yang sederhana tapi mampu membuat pelanggan tersebut merasa dihargai kedatangannya, hingga pada akhirnya membuat pelanggan tersebut menjadi pelanggan tetap di toko tersebut. Selain itu, buku ini juga banyak membahas tentang bagaimana cara pemimpin yang bisa mengarahkan orang lain. Yak, ilmu leadership.
___
Kesimpulan/Conclusion
Apakah buku ini termasuk rekomendasi? YES, Recommended! so far aku sangat terbantu dengan ilmu dari buku ini terutama selama berinteraksi sosial. Setelah baca yang buku yang pertama kali diterbitkan tahun 2011 ini, beberapa kali dalam hati "ehh... bener juga ya, kenapa gak aku lakuin dari dulu". Meskipun mungkin judul bab nya membuat kamu bilang "ahh.. biasa aja".
Tapi percayalah, buku ini berguna banget.. asli. Ya meskipun menurut aku ada beberapa terjemahan yang agak sedikit sulit di cerna oleh pembaca awam, tapi isi buku ini bagus di baca oleh siapapun, dan dapat dengan mudah di terapkan, tidak terkecuali dalam dunia kerja.
Gak kerasa kamu udah baca review ini sampai habis. Untuk kamu yang juga suka baca buku tentang Leadership aku saranin kamu juga baca review aku tentang buku Service Excellence karya Rizal Badudu. Kalau kamu suka dengan review aku, bisa share artikel ini sosial media kamu ya, sampai ketemu di postingan aku berikutnya!
*Disclaimer : Buku yang penulis beli merupakan buku original dan seluruh tulisan artikel ini merupakan opini pribadi.

.jpg)

