July 02, 2022

Tepatkah kita menilai kemampuan seseorang dari gelarnya?


Sebelum membahas lebih dalam artikel kali ini, aku ingin kamu menyimak sambil membayangkan percakapan dari dua orang yang kita sebut saja Rahman dan Dayat, yang mana mereka merupakan dua orang mahasiswa di salah satu Universitas. Pada suatu pagi, saat selesai belajar di kelas, Dayat melihat Rahman sedang kebingungan dengan laptopnya. Lantas Dayat pun penasaran dan terjadilah percakapan di bawah ini:

Dayat     : Man, kenapa kamu kok kek orang kebingungan? 

Rahman    : ini man... laptop ku sering error. Sering banget muncul error terus layarnya cuman warna biru. Padahal belum nyampe setahun beli. 

Dayat       : Coba aku lihat man. 

Setelah beberapa menit dicek, Dayat pun tau kenapa laptop Rahman sering mengalami masalah.

Dayat       : ohh ini karena windows di laptop kamu kena virus man. Jadi ada beberapa software yang corrupt (istilah lain dari software yang rusak). Kalau menurut aku laptop kamu ini perlu di Install ulang.

Rahman    : waduh.. instal ulang yat? tapi kalau emang sekiranya butuh instal ulang, nanti aku coba tanya sama toko kemaren aku beli laptop.

Dayat       : nah instal ulang kan bayar man, daripada nanti kamu ngeluarin uang, gimana kalau nanti aku instal ulang aja laptop kamu. Kan lumayan uangnya nanti kan bisa buat ngeprint skripsi kamu.

Rahman    : emang kamu bisa yat? aku tau kamu paham komputer, tapi kan kamu bukan jurusan IT. kamu juga gak punya sertifikat tentang komputer.

Dayat       : gak apa apa.. aku bisa kok. Aku juga instal ulang sendiri laptop aku. Udah terbiasa juga sejak SMA Instal ulang laptop orang lain. 

Rahman    : hemm.. terima kasih ya yat udah mau bantu, tapi kayaknya nanti aku coba bawa laptop ku ke toko aja yat. Soalnya aku takut nanti kalau sembarang di Instal ulang, nanti data aku hilang.


Setelah mendengar kalimat rahman yang mengatakan bahwa Dayat bukan jurusan IT dan dia gak memiliki sertifikat apapun tentang komputer, Dayat pun termenung. Meskipun percakapan di atas merupakan ilustrasi, tapi ada hal menarik yang ingin kita bahas. Menurut kamu, tepatkah kita menilai orang dari gelarnya? Apakah orang yang sudah mempunyai sertifikat maka ia lebih unggul?

Semenjak informasi bertebar dengan cepat apalagi mudahnya mengakses internet membuat banyak orang mampu belajar secara mandiri atau yang sering kita kenal dengan istilah otodidak. Hal ini pun terbukti ketika saya kenal beberapa orang yang pendidikan nya hanya lulus SMA namun mempunyai kemampuan yang cukup mumpuni dibidang nya masing-masing, tak kalah dengan lulusan perkuliahan. 

Tak kalah penting, terkadang mereka hebat karena terbiasa (practical intelligence). Sebagai contoh, saya mempunyai teman yang sangat paham dengan seluk beluk aplikasi microsoft office (word, excel, powerpoint dll) bukan karena ia lulusan perkuliahan ataupun kursus komputer, tapi karena ia bekerja sebagai asisten di salah satu perusahaan. Bahkan kecepatan ia mengetik pun bisa dibilang di atas rata-rata.

Memang betul, gelar/sertifikat yang dimiliki seseorang dapat menguntungkan secara administratif, kesempatan kerja yang lebih luas, dan lain sebagainya. Proses mendapatkan gelar pun relatif susah (tergantung apa gelar yang diambil). Namun menganggap orang yang memiliki gelar/sertifikat sudah pasti lebih hebat tentunya tidaklah tepat. 

Kita harus akui bahwa tidak sedikit dari masyarakat kita yang masih beranggapan bahwa tujuan sekolah tinggi itu supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Apa kamu juga termasuk yang beranggapan begitu? sebenarnya tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Menurut salah satu dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D ia menggangap bahwa sekarang gelar tak lagi penting.
 
Tentunya bukan tanpa alasan, menurutnya sekarang kita berada di era di mana pendidikan dan ilmu pengetahuan dapat diakses oleh siapapun dengan murah dan mudah sehingga hampir setiap orang dapat memperoleh pengetahuan dari berbagai platform digital. Salah satu hal yang paling penting adalah kemampuan kita mengikuti perkembangan zaman (uptodate). 

Meskipun begitu, pendapatnya tentu gak bisa kita telan secara mentah-mentah, sebab ada beberapa alasan yang misalnya tidak semua orang memiliki kemampuan belajar autodidak, kemudian penggunaan internet jika tidak dibekali dengan pengetahuan dan akhlak maka justru akan banyak kemudharatan yang didapatkan, seperti akan mudah terjerumus dalam hal-hal negatif. Hal yang perlu kita pahami adalah sumber ilmu bukan hanya dari sekolah/perkuliahan saja.

Misalnya, di zaman sekarang bukan lagi menjadi hal yang aneh ketika seorang mahasiswa Komunikasi juga menguasai aplikasi  photoshop/adobe premiere yang lumrahnya di kuasai oleh mahasiswa lulusan jurusan Multimedia. Maka tak heran apabila berdasarkan data 80% mahasiswa yang lulus bekerja tidak sesuai prodi nya (berita nya bisa kamu baca di sini).

Pada suatu wawancara elon musk mengatakan: 
I think colleges are basically for fun and to prove you can do your chores. But they're not for learning


_____

Melalui tulisan ini aku berharap pemikiran kita bisa lebih luas dalam memandang kemampuan seseorang. Hal ini tentunya juga sangat penting kamu ketahui ketika berinteraksi dengan orang yang tentunya mempunyai pengalaman dan pendidikan yang berbeda-beda dan apalagi ketika kamu sebagai decision maker entah itu di perusahaan ataupun organisasi sekalipun, bukan lagi berpikir karena orang tersebut mempunyai sertifikat/gelar pasti mereka mampu. Ada beberapa faktor lain yang perlu kita pertimbangkan seperti latar belakang, kemampuan ia beradaptasi dan lain sebagainya. 

Seiring berjalan nya waktu, bukan tak mungkin membuat kita harus merubah pola pikir dan persepsi terutama terhadap dunia pendidikan. Agar menambah wawasan, aku merekomendasikan kamu menonton video Prof. Rhenald Kasali tentang ledakan non degree berikut ini :


Meskipun sedikit di luar pembahasan, tapi aku juga merekomendasikan kamu menonton video Dr. Indrawan Nugroho (salah satu channel favorit saya) berikut ini tentang pandangan Elon Musk terhadap lulusan MBA yang tidak lagi cocok untuk perusahaan. 





Referensi :
https://mikamoney.com/apakah-orang-banyak-gelar-akademik-adalah-orang-cerdas/
https://www.kabarpendidikan.id/2020/12/gelar-sarjana-tidak-menjamin-semua.html
https://www.qureta.com/post/menyoal-ledakan-non-degree
https://duniafintech.com/5-pesan-rhenald-kasali-digitall/
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0260691713001548
https://www.investopedia.com/financial-edge/0511/work-experience-vs.-education-which-lands-you-the-best-job.aspx