August 30, 2026

Bagaimana Saya Menggunakan AI untuk Critical Thinking dan Research



Sebuah Pernyataan atau Informasi yang Membuat Saya Penasaran

Seberapa sering kita menerima sebuah informasi tanpa benar-benar mempertanyakan kebenarannya?

Informasi bisa datang dari mana saja—percakapan dengan orang lain, media sosial, podcast, buku, bahkan dari orang yang memiliki latar belakang profesional. Namun, apakah karena informasi tersebut disampaikan oleh seseorang yang terlihat meyakinkan, kita bisa langsung menganggapnya benar?apakah bisa dipertanggung jawabkan?"

Pertanyaan tersebut muncul ketika saya menonton podcast Marianne Rumantir bersama Dr. Ryan Keswani, seorang dokter spesialis bedah saraf.

Podcast Marianne Rumantir bersama Dr. Ryan Keswani

Di dalam Podcast tersebut, Dr. Ryan mengatakan bahwa "Jika ada bagian otak yang rusak, maka tugasnya akan diambil alih oleh bagian otak lain". Hal tersebut sangat menarik bukan? 

Benarkah Pernyataan Tersebut?

Karena pernyataan tersebut menarik perhatian saya, saya kemudian mencoba mempelajarinya lebih lanjut. Salah satu langkah awal yang saya lakukan adalah bertanya kepada ChatGPT mengenai konsep tersebut dan mencari tahu penjelasan ilmiahnya. 

Ketika saya mengetik prompt pertanyaan dengan pernyataan tersebut, maka berikut yang muncul:


Dari penjelasan tersebut, saya memahami bahwa pernyataan Dr. Ryan secara umum memiliki dasar yang benar, tetapi sebenarnya membutuhkan penjelasan yang lebih kompleks.

Apa Itu Neuroplastisitas?
Otak memang memiliki kemampuan neuroplastisitas, yaitu kemampuan untuk membentuk, memperkuat, atau melemahkan koneksi antar sel saraf. Namun bagian otak yang menggantikan tersebut seringkali tidak langsung mampu menggantikan 100 persen peran otak yang telah rusak.

Mencoba Memahaminya dengan Analogi

Sebagai analogi sederhana, bayangkan sebuah perusahaan kehilangan salah satu karyawannya secara tiba-tiba. Dalam kondisi tertentu, karyawan dari divisi lain mungkin dapat mengambil sebagian tugas yang ditinggalkan. 
Namun, bukan berarti karyawan tersebut dapat menjalankan seluruh pekerjaan dengan kemampuan dan efisiensi yang sama seperti orang sebelumnya. Orang tersebut mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi, mempelajari tugas baru, dan menemukan cara kerja yang paling efektif.

Kurang lebih seperti itulah cara sederhana untuk membayangkan neuroplastisitas. Otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan membentuk kembali koneksi tertentu, tetapi kemampuan tersebut tidak berarti bagian otak lain dapat menggantikan seluruh fungsi bagian yang mengalami kerusakan secara sempurna.

Apa yang Saya Pelajari?

Dari sini saya belajar bahwa informasi yang terdengar sederhana sering kali memiliki penjelasan yang jauh lebih kompleks. Kita tidak harus langsung menolak sebuah informasi hanya karena terdengar terlalu sederhana, tetapi juga tidak seharusnya langsung menerimanya tanpa mencari tahu lebih lanjut.

Bagi saya, inilah salah satu alasan mengapa rasa ingin tahu penting. Ketika menemukan sesuatu yang menarik, terkadang pertanyaan sederhana seperti “Benarkah demikian?” bisa membawa kita pada pemahaman yang jauh lebih dalam daripada hanya menerima informasi dan langsung mengambil kesimpulan.  Dan dengan bantuan teknologi seperti AI, proses tersebut kini bisa dimulai dengan lebih mudah, selama kita tetap menjadi orang yang bertanya terhadap sebuah informasi, bukan sekadar orang yang hanya menerima jawaban.


References 

  • Podcast Marianne Rumantir bersama Dr. Ryan Keswani.
  • Sumber ilmiah mengenai neuroplastisitas dan kemampuan otak dalam beradaptasi.
  • ChatGPT digunakan sebagai salah satu alat bantu dalam proses eksplorasi awal, bukan sebagai sumber ilmiah utama.