August 31, 2026

Cara Saya Belajar Kepemimpinan dari Buku Leadership XYZ

 


Mengapa Saya Tertarik dengan Buku Ini?

Alasan utama saya membeli buku ini karena salah satu penulisnya adalah Anies Baswedan. Sebelum membaca buku ini, saya sudah mengenal beliau sebagai mantan Rektor Universitas Paramadina, mantan Gubernur DKI Jakarta, dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Bagi saya, Pak Anies merupakan sosok yang patut saya jadikan role model. Selain memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, beliau juga merupakan sosok yang telah memberikan banyak impact bagi masyarakat. Salah satu hal yang menurut saya menarik adalah ketika beliau mendirikan Indonesia Mengajar, sebuah gerakan yang merekrut, melatih, dan mengirimkan generasi muda terbaik bangsa—yang disebut Pengajar Muda—untuk mengajar dan hidup di daerah terpencil atau pelosok yang mengalami kekurangan guru berkualitas.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh bagaimana pemikiran beliau tentang kepemimpinan yang dituangkan dalam buku ini.

Mengenal Buku dan Ketiga Penulis (Tiga Generasi, Tiga Perspektif Leadership)

Bagi saya, buku Leadership XYZ bukan buku kepemimpinan yang biasa, kenapa? keterlibatan tiga penulis yang berasal dari generasi, latar belakang, dan pengalaman yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat pembahasan tentang kepemimpinan dalam buku ini tidak hanya datang dari satu sudut pandang, tetapi dari tiga perspektif yang saling melengkapi.
Anies Baswedan merupakan seorang akademisi, aktivis sosial, dan pemimpin publik lintas bidang yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Gubernur DKI Jakarta. Rekam jejaknya menampilkan komitmen pada pendidikan, demokrasi, dan kepemimpinan kolaboratif yang membentuk generasi baru. Sebagai generasi X, kehadirannya dalam buku ini menghadirkan perspektif kebijaksanaan. 

Sementara itu, Dedi Wijaya merupakan seorang konsultan organisasi dan pembangunan kota yang berpengalaman di sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat sipil. Ia pernah memimpin transformasi kelembagaan di berbagai organisasi, termasuk menjadi bagian dari unit strategis di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Melalui buku ini, Dedi menyumbangkan refleksi praktis dan narasi lintas generasi, mewakili perspektif generasi Y yang menjembatani

Dan Sarah Ardiwinata merupakan sarjana hukum kelahiran 1999 yang aktif dalam berbagai forum dan isu seputar kepemimpinan, pengembangan organisasi, dan pemberdayaan perempuan. Ia pernah menjabat Ketua OSIS SMA Negeri 8 Bandung dan Wakil Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Ia mengawali karirnya di dunia akademisi sebagai asisten dosen sebelum kemudian sekarang bekerja di sebuah Law Firm di Jakarta. Dalam buku ini, Sarah membawa suara generasi Z melalui gaya narasi yang reflektif, segar, dan tetap dekat dengan realitas anak muda. Sehingga gagasan dan narasi nya sangat dekat dengan realitas anak lebih muda.

Sehingga buku ini tidak hanya ditulis oleh satu generasi, tetapi buku ini juga ditulis oleh tiga generasi sekaligus.

Apakah Generasi Memengaruhi Cara Seseorang Memimpin?
Kepemimpinan merupakan interaksi dengan orang lain, pada kepemimpinan, tentu nya memahami sudut pandang yang berbeda sangatlah penting, termasuk memahami pemikiran lintas generasi. 
Secara praktis, membuat saya semakin membuka sudut pandang yang lebih lebar, sehingga saya mampu melihat perspektif dari beberapa generasi terutama jika saya berinteraksi dengan beberapa generasi sekaligus. 

Sebagai contoh, ketika saya bekerja, saya menghadapi atasan yang usia nya di atas saya dan tentu nya memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda. Sementara itu, di saat yang bersamaan saya juga berinteraksi dengan teman kerja maupun bawahan saya yang umur nya lebih muda. 

Berdasarkan pengalaman saya, perbedaan usia seperti ini sering membuat membuat kami menghadapi perbedaan sudut pandang dan cara berpikir, namun bagi saya hal itu wajar. 
Nah, ketika saya membaca buku ini saya merasakan bahwa saya bisa memahami mereka lebih dalam setiap perbedaan pendapat maupun pola pikir orang lain.



Menghubungkan Leadership dengan Kehidupan Nyata
Salah satu bagian yang saya suka membaca buku Leadership adalah ketika saya bisa menerapkan ilmu yang saya pelajari untuk kehidupan sehari-hari. Mulai dari pola pikir hingga strategi cara saya memperlakukan orang lain. 

Nah buku ini, membuat saya semakin sadar bahwa hubungan yang baik dengan orang lain merupakan salah satu pondasi lancarnya kepemimpinan. Saya sadar meskipun menjadi pemimpin saya tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi saya akan tetap bisa memiliki hubungan yang baik dengan banyak orang. Bukan kah itu jauh lebih menguntungkan ketimbang membuat banyak orang lain tidak nyaman orang lain tidak nyaman dengan saya. 

Apa yang Saya Pelajari? (Penutup)
Memimpin adalah mendidik, dan mendidik adalah memimpin.

Kalimat tersebut menjadi salah satu kalimat yang sangat berkesan bagi saya. Alih-alih menggunakan pendekatan yang otoriter, melalui buku ini saya memahami bahwa gaya kepemimpinan Pak Anies Baswedan lebih menekankan pada kepemimpinan yang edukatif, transformasional, demokratis, dan berbasis narasi (narrative leadership).

Meskipun setiap gaya kepemimpinan tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, bagi saya, pendekatan seperti ini sangat menarik. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk memberikan arahan atau memastikan pekerjaan selesai, tetapi juga memiliki peran untuk mendidik, membangun pemahaman, serta membantu orang lain berkembang.

Bagi saya, inilah salah satu hal yang membuat kepemimpinan menjadi lebih bermakna. Memimpin bukan sekadar membuat orang lain mengikuti apa yang kita inginkan, tetapi juga membantu mereka memahami mengapa sesuatu perlu dilakukan dan memberikan ruang bagi mereka untuk tumbuh.



Jujur, ketika menulis artikel ini, rasanya tidak cukup jika saya hanya menulis satu artikel. Ada begitu banyak hal yang saya pelajari dari buku ini. Selain belajar memahami lebih dalam tentang perbedaan lintas generasi, bagi saya buku ini juga menjadi sebuah refleksi bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mengejar target, menggerakkan orang, memberikan perintah, ataupun sekadar menyelesaikan pekerjaan.

Buku ini mengajarkan saya bahwa hubungan dalam kepemimpinan tidak selalu sebatas hubungan antara atasan dan bawahan. Memimpin juga berarti membangun hubungan yang didasari oleh sikap saling memahami, berusaha mengetahui sudut pandang orang lain, serta memahami maksud dan tujuan seseorang ketika terjadi perbedaan pendapat.

Saya semakin menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin bukan berarti selalu menjadi orang yang paling tahu atau selalu berada di posisi yang benar. Terkadang, menjadi pemimpin justru berarti bersedia mendengarkan, memahami alasan di balik perbedaan, dan melihat suatu persoalan dari sudut pandang orang lain.

Sebagai seseorang yang sangat menyukai buku-buku tentang leadership, saya sangat merekomendasikan buku ini. Bukan hanya karena buku ini membahas tentang kepemimpinan, tetapi karena buku ini juga mengajak saya untuk melihat kepemimpinan dari banyak sisi: tentang bagaimana kita memahami orang lain, membangun hubungan, dan belajar menghadapi perbedaan.